
Bandung, genbinesia.or.id – Yayasan Generasi Biologi Indonesia (Genbinesia) kembali memperkuat kolaborasi akademik melalui kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Program Studi Sains dan Teknologi Farmasi, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 28 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Kampus ITB Ganesa ini mengangkat tema pemanfaatan tumbuhan sebagai obat alami berbasis kearifan lokal melalui pendekatan etnobotani dan etnofarmakognosi.
Ketua Yayasan Genbinesia, Reza Raihandhany, S.T., M.Sc., hadir sebagai dosen tamu pada mata kuliah Etnofarmakognosi. Dalam perkuliahan tersebut, mahasiswa diajak memahami bagaimana masyarakat adat di sejumlah wilayah, khususnya di Jawa Barat, memanfaatkan tumbuhan di sekitar mereka sebagai bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Perkuliahan tidak hanya membahas teori dasar etnobotani dan etnofarmakognosi, tetapi juga memperkenalkan metode ilmiah yang digunakan dalam penelitian pengetahuan lokal. Mahasiswa dibekali pemahaman mengenai teknik pengumpulan data, pendekatan wawancara, serta pengolahan data kuantitatif melalui berbagai indeks etnobotani untuk mengukur tingkat kepentingan suatu spesies tumbuhan bagi masyarakat.
Untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih aplikatif, sesi kuliah tamu ini juga dilengkapi dengan simulasi wawancara yang diperankan langsung oleh mahasiswa. Simulasi tersebut bertujuan melatih etika komunikasi, teknik penggalian informasi, serta pendekatan yang tepat dalam memperoleh data pengetahuan lokal di lapangan.
Selain itu, Reza turut membagikan berbagai pengalaman lapangan dari penelitian yang pernah dilakukan di sejumlah kampung adat. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai kekayaan pengetahuan lokal masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan, sekaligus menunjukkan pentingnya dokumentasi ilmiah terhadap praktik-praktik tradisional yang masih hidup di tengah masyarakat.
Etnofarmakognosi memiliki peran penting sebagai penghubung antara kearifan tradisional dan pengembangan sains farmasi modern. Pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat adat dapat menjadi sumber informasi berharga dalam upaya pencarian senyawa bioaktif dan pengembangan kandidat obat berbasis tumbuhan.
Melalui pendekatan ilmiah, pengetahuan tradisional dapat didokumentasikan, dianalisis, dan divalidasi secara sistematis. Upaya ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi farmasi, tetapi juga mendukung pelestarian budaya, perlindungan pengetahuan lokal, serta pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia secara berkelanjutan.
Kuliah tamu ini dipandu dan didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah Etnofarmakognosi, Dr. apt. Hegar Pramastya, S.Si., M.Si. Diskusi berlangsung interaktif, dengan mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai hubungan antara pengetahuan tradisional, keanekaragaman hayati, dan peluang pengembangan farmasi berbasis bahan alam.
Dr. apt. Hegar Pramastya menyampaikan apresiasinya terhadap materi yang disampaikan dalam kuliah tamu tersebut. Menurutnya, perkuliahan ini memberikan wawasan yang menarik mengenai kampung adat, kekayaan pengetahuan lokal, serta pemanfaatan keanekaragaman hayati setempat.
“Kuliah tamu Etnofarmakognosi kali ini memberikan insight yang menarik tentang kampung adat serta khazanah kekayaan lokal dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati setempat. Materi juga diperkaya dengan petuah dan pengalaman lapangan dari pemateri,” tutur Dr. apt. Hegar seusai kegiatan berlangsung.
Melalui kegiatan ini, Genbinesia berharap mahasiswa sebagai calon farmasis muda dapat memiliki perspektif yang lebih luas dalam melihat biodiversitas Indonesia. Keanekaragaman hayati tidak hanya dipandang sebagai objek riset, tetapi juga sebagai warisan pengetahuan dan sumber daya penting yang perlu dikembangkan secara ilmiah untuk kemaslahatan masyarakat luas.







