
Jakarta, genbinesia.or.id – Yayasan Generasi Biologi Indonesia (Genbinesia) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat literasi keanekaragaman hayati melalui kolaborasi lintas institusi. Pada 2 Mei 2026, Genbinesia berpartisipasi dalam pameran bertajuk “BIOSPHERE: Integrasi Etnobotani dan Biodiversitas Perkotaan dalam Mendukung Keberlanjutan Lingkungan” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Dalam kegiatan edukatif tersebut, Ketua Yayasan Genbinesia, Reza Raihandhany, S.T., M.Sc., hadir sebagai undangan dan mengisi stan khusus bertema etnobotani. Kehadiran Genbinesia bertujuan memberikan wawasan mengenai hubungan antara tumbuhan, budaya masyarakat, dan kearifan lokal dalam mendukung pemahaman terhadap biodiversitas.
Pameran BIOSPHERE menghadirkan ruang pembelajaran interaktif yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan pengunjung dengan isu-isu keanekaragaman hayati perkotaan. Melalui stan etnobotani, pengunjung diajak memahami sejarah perkembangan etnobotani, mengenal hubungan antara tumbuhan dan budaya lokal, serta melihat bagaimana pengetahuan tradisional masyarakat dapat berperan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.
Berbeda dengan seminar formal, penyampaian materi dalam pameran ini dilakukan melalui dialog interaktif dan narasi pengalaman lapangan. Pengunjung tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai pemanfaatan tumbuhan, nilai budaya yang menyertainya, serta pentingnya menjaga pengetahuan lokal di tengah perubahan kehidupan perkotaan.
“BIOSPHERE merupakan pameran edukatif interaktif yang mengintegrasikan konsep etnobotani dan biodiversitas perkotaan untuk meningkatkan pemahaman serta kesadaran lingkungan melalui pengalaman belajar langsung,” ujar Safarudin, Ketua Pelaksana BIOSPHERE, saat menjelaskan urgensi kegiatan tersebut.
Dosen Pendidikan Biologi UHAMKA, Ranti Anisa, M.Pd., turut memberikan apresiasi terhadap kolaborasi ini. Menurutnya, kehadiran Genbinesia memberikan warna baru dalam kegiatan kemahasiswaan, terutama melalui penyampaian materi yang dekat, komunikatif, dan berbasis pengalaman.
“Acara ini memberikan pengalaman edukatif karena ilmunya disampaikan langsung melalui kisah menarik mengenai etnobotani dan biodiversitas. Ini memberi ruang yang dekat, seolah pengunjung ikut terlibat di dalamnya,” ujar Ranti.

Melalui kegiatan ini, Genbinesia menegaskan bahwa pelestarian biodiversitas tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kearifan lokal yang menyertainya. Pengetahuan tradisional masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan bukan hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga sumber informasi penting yang dapat mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik keberlanjutan.
Sinergi antara sains modern dan pengetahuan lokal menjadi penting dalam menghadapi tantangan lingkungan, terutama di kawasan perkotaan yang terus mengalami perubahan. Dengan memahami hubungan antara manusia, tumbuhan, dan lingkungan, masyarakat diharapkan dapat memiliki kesadaran yang lebih kuat dalam menjaga keanekaragaman hayati di sekitarnya.
Genbinesia berharap kolaborasi seperti ini dapat terus dikembangkan bersama berbagai institusi pendidikan. Melalui kegiatan edukatif berbasis etnobotani dan biodiversitas, generasi muda diharapkan mampu melihat keanekaragaman hayati bukan hanya sebagai objek kajian, tetapi juga sebagai bagian penting dari identitas budaya, sumber pengetahuan, dan fondasi keberlanjutan lingkungan.






