Mojokerto, genbinesia.or.id – Peneliti dari Herbarium Genbinesia, Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Heri Santoso, melaporkan penemuan spesies baru tumbuhan dari Pulau Jawa dengan nama ilmiah Sida conduplicata dari famili Malvaceae. Peneltian ini melibatkan berbagai kolaborasi peneliti dari Universitas Gadjah Mada dan UIN Surabaya. Spesies ini dideskripsikan sebagai jenis baru dari Jawa Timur dalam artikel ilmiah yang diterbitkan jurnal Annales Botanici Fennici pada bulan Maret 2026. Penemuan ini menambah daftar keanekaragaman hayati tumbuhan Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa wilayah Jawa masih menyimpan taksa yang belum terdokumentasi secara lengkap dalam kajian botani modern.
Berdasarkan penelitian tersebut, Sida conduplicata ditemukan melalui survei botani di Jawa Timur dan semula tampak mirip dengan Sida rhombifolia var. maderensis karena sama-sama memiliki satu struktur tanduk pada mericarp. Namun, setelah dibandingkan dengan spesimen herbarium dan pustaka taksonomi, peneliti memastikan bahwa tumbuhan ini berbeda secara morfologi, antara lain pada bentuk habitus, ujung daun, bentuk helaian daun, diameter mahkota bunga, serta yang utama adalah permukaan mericarp yang berambut. Perbedaan-perbedaan ini menjadi dasar ilmiah penetapan statusnya sebagai spesies baru.
Secara morfologi, Sida conduplicata dideskripsikan sebagai tumbuhan bawah berkayu dengan habitus menjalar atau rebah, tinggi sekitar 10–35 cm. Daunnya berbentuk obcordatus (bentuk jantung terbalik) hingga obovatus (telur terbalik) dan daunnya menangkup atau terlipat mengikuti tulang daun utama, yang menjadi asal nama “conduplicata”. Bunganya tumbuh soliter di ketiak daun, berwarna kuning hingga jingga, dengan diameter mahkota relatif besar, sekitar 2,2–3,2 cm. Ciri lain yang menonjol adalah buah pecahnya yang memiliki 8–11 mericarp, masing-masing dengan satu struktur tanduk. Spesimen utama tersebut disimpan sebagai holotipe di Herbarium Genbinesia (GEN) dengan nomor GEN1160.

Distribusi spesies baru ini sejauh ini tercatat di beberapa wilayah Jawa Timur, yakni Mojokerto, Sidoarjo, Situbondo, dan Trenggalek. Habitatnya berupa dataran rendah di bawah 250 mdpl, terutama di tepi jalan, sawah, tepian sungai, dan area terbuka. Penulis juga mencatat bahwa jenis ini ditemukan pada lingkungan kering hingga semi-arid, termasuk savana Baluran. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa Sida conduplicata memiliki sebaran yang sempit dan tampaknya beradaptasi dengan lanskap dataran rendah yang relatif kering.
Selain penting secara taksonomi, penemuan ini juga relevan bagi pemutakhiran data Flora Jawa. Dalam jurnal penemuan itu disebutkan bahwa eksplorasi terbaru sebelumnya mendokumentasikan sekitar sembilan spesies Sida di Jawa, dan kehadiran Sida conduplicata memperkaya daftar tersebut. Peneliti bahkan menyusun kunci identifikasi terbaru untuk spesies-spesies Sida di Jawa, yang menempatkan S. conduplicata sebagai satu-satunya jenis dengan daun menangkup atau terlipat di antara taksa yang dikenal dari pulau ini.
Penemuan Sida conduplicata menegaskan pentingnya survei lapangan, pengelolaan herbarium, dan kajian taksonomi untuk mendukung inventarisasi biodiversitas Indonesia. Di tengah tekanan perubahan penggunaan lahan, penemuan spesies baru di kawasan yang tampak umum seperti tepi jalan, lahan terbuka, dan tepian sungai menunjukkan bahwa penelitian botani dasar masih sangat dibutuhkan. Temuan ini bukan hanya menambah satu nama baru dalam flora Indonesia, tetapi juga memperkuat dasar ilmiah bagi konservasi dan pemahaman ekologi tumbuhan lokal.





